Saat aku memutuskan untuk melangkah menjauh
selalu ada beberapa pertanyaan yang melintas berulang seperti “Mengapa aku
bertahan selama ini”
Lalu aku merenungi kembali kenapa dan itu
yang kulakukan akhir akhir ini
Mengapa aku betah bertahan disaat kau
menatapku sudah seperti orang asing ?
Aku tak bisa menjawab singkat juga walaupun
panjang, tak pernah ada kesimpulan
Saat kau tak pernah melihat dan peduli padaku
disitu rasa untuk melangkah pergi sampai pada titik terhebatnya, sama seperti
aku yang terus menerus menyinggungmu lewat tulisanku yang tak pernah pula kau
salami kalau itu 100% untukmu, antara kau tak peduli atau hanya kewajiban
seseorang yang pernah mengenalku jadi kau hanya lalu, tanpa ada balasan, tanap
ada apa apa. Hanya aku yang menulis dan kau yang membaca dan lalu, sudah…hanya
itu bukan ?
Aku menglangkah…
Lalu bagaimana jika selama ini kau peduli ?
dank au kembali, entah pemikiran bodoh ini selalu datang dan semakin menguat
saat keinginan pergi mencuat pula
Iya..bagaimana jiika selama ini kau peduli,
hanya saja kau tak punya nyali. Sama sepertiku yang tak pernah bisa langsung
berbicara dengamu. Iya…bagaimana jika seperti itu.
Mungkin saja kau kembali dan berkata maaf
telah membuatku menunggu terlalu lama
Bagaimana jika itu yang terjadi ? ah
pembelaan yang cukup bodoh sebenarnya, tapi aku yang bodoh percaya kepada
alasan alasan tak berdasar itu.
Aku terlalu bodoh untuk memutuskan pergi,
mungkin itu yang bisa aku katakan.
Aku masih bertahan, itu kesimpulannya.
Setidaknya untuk malam ini sampai pagi
0 komentar:
Posting Komentar